Senin, 30 Januari 2012

Media & Politik

Media bukan lagi tempat melihat, membaca dan mendengar tentang kebenaran tampaknya. Media sudah benar-benar ikut dalam kelimpungan yang dihadapi negeri ini. Media bukan lagi pencerah, seperti halnya ketika Guttenberg menciptakan mesin cetak pertama kali dan mengawali masa Renaissance di eropa kala itu.

Media kita saat ini sudah seragam, dan semakin telanjang mata dalam melakukan penyeragaman terhadap masalah-masalah yang tidak krusial seperti yang sebenarnya banyak terjadi di negeri ini. Media juga menjadi alat penyerang terhadap kelompok-kelompok tertnentu. Ini dapat terjadi semata karena media juga telah dikuasai oleh orang atau sekelompok orang yang tidak lagi memperhatikan fungsi dasar dari media terhadap masyarakat dan negara ini.

Dua paragraf di atas adalah tulisan saya pada januari 2012, dan ini saya tambahkan sedikit sesuai dengan perkembangan yang terjadi saat ini di Indonesia sekaligus saya akan merubah judul dari tulisan ini.

Sedikit jauh ke belakang, semangat Guttenberg ketika menciptakan alat cetak tulisan massal adalah bagaimana pemikiran yang kala itu dikekang oleh tirani bernama Vatikan dapat terbebaskan dan bangsa Eropa mampu berpikir sesuai kemampuannya masing-masing dan tidak dibatasi oleh doktrin lagi. Semangat ini juga lah yang menjadi salah satu penyebab lahirnya gerakan Renaissance di Eropa. Dengan kata lain dapat saya simpulkan, media adalah wadah kemerdekaan berpikir dari para pemikir.

Masih segar di ingatan kita mungkin situasi menjelang pemilihan legislatif 9 April kemarin, media khususnya televisi jika kita telaah baik-baik tidak menjalankan fungsinya lagi sebagai pemberi informasi yang umum dan aktual, media berubah menjadi sarana promosi politik untuk sebuah acara bernama PEMILU, salah? tentu tidak, karena ternyata dalam peraturan KPU No.15 tahun 2013 tentang perubahan peraturan KPU No.1 tahun 2013 mengenai pedoman pemilihan anggota DPD, DPRD dan DPR media memang boleh melaksanakan kampanye dari partai-partai politik yang ikut PEMILU. Tetapi dalam peraturan itu juga diatur jelas mengenai tatacara yang adil dalam melaksanakan nya, contoh; bahwa kepala pemerintahan hingga bawahan nya yang terkait dikatakan tidak boleh menjadi tokoh dalam sebuah iklan layanan masyarakat selama 6 (enam) bulan sebelum PEMILU legislatif diadakan. Dan masih merujuk pada peraturan ini juga, dikatakan bahwa fungsi pengawasan media pada saat kampanye diserahkan kepada Dewan Pers dan Komisi Penyiaran Indonesia.

Apakah semua peraturan tadi berjalan dengan baik?
Coba ingat bagaimana iklan kampanye politik dari partai penguasa kemarin, yang seluruh isi kampanyenya adalah program kebijakan pemerintah yang diplesetkan seolah menjadi kebijakan partai tersebut di dalam pemerintahan. Dalam peraturan KPU tadi mungkin ini tidak melanggar sanksi, tetapi ketika diakhir muncul pemimpin negara yang tidak lain adalah ketua umum partai tersebut mengajak masyarakat untuk memilih partainya, apakah secara etika anda tidak bertanya? Layakkah atau tidak, meskipun perundang-undangan tidak mengatakannya sebagai sebuah pelanggaran.

Untuk contoh kasus lain menurut saya adalah adanya distorsi fungsi media yang dilakukan pemilik media yang juga menjadi calon presiden dan calon wakil presiden dari partainya.
Kita pasti sudah tahu siapa-siapa saja mereka, yang sangat kontras sekali dan akan saya angkat disini tanpa ada unsur memihak adalah pemilik grup MNC yang menjadi calon wakil presiden dari partai HANURA. Pada saat sebelum pemilihan legislatif dilaksanakan pasangan ini menjadi tokoh yang selalu seliweran pada tiap-tiap program media yang ditayangkan oleh grup MNC, baik itu dari acara berita (news), debat politik, gosip bahkan hingga ke tayangan hiburan seperti acara musik dan sinetron. Bahkan skenario sinetron Tukang Bubur Naik Haji saat itu sekonyong berubah hingga muncul pasangan calon presiden dan calon wakilnya dari partai HANURA tersebut. Fungsi media yang semestinya melakukan pemberitaan adil, hiburan yang memang bentuknya menghibur akhirnya terdistorsi tanpa disadari menjadi tayangan kampanye politik terselubung. Walaupun ternyata pada hasil hitung cepat kemarin partai tersebut menjadi partai kedua terendah dan kemungkinan akan terdiskualifikasi.

Dari kejadian demi kejadian tersebut dapat kita lihat bagaimana dampak buruk dari kepemilikan media dalam bentuk bersama atau lazim disebut grup. Media yang seharusnya menjadi sumber informasi terpercaya untuk publik berubah menjadi corong politik dari tokoh dan partai-partai politik yang ada. Karena hampir mayoritas bisnis media yang ada di Indonesia ternyata dimiliki oleh tokoh-tokoh politik negeri ini.

Mengutip pendapat dan hasil riset dari William L. Rivers - Jay W. Jensen - Theodore Peterson pada buku mereka yang sudah disadur ke dalam bahasa Indonesia "MEDIA MASSA dan MASYARAKAT MODERN" pada edisi kedua ini mereka mengatakan bahwa kebebasan pers bukanlah hal yang menjadi tujuan sebenarnya dalam bernegara atau berdemokrasi melainkan kebebasan publik mendapatkan informasi lah yang harus menjadi supremasi dalam bernegara khususnya berdemokrasi. Jika kebebasan pers menjadi tujuan, maka tirani media lah yang terbentuk menjadi otoritas resmi informasi, sebaliknya, jika kebebasan publik mendapatkan informasi yang menjadi tujuan, maka cita-cita bernegara dalam bentuk demokrasi akan dapat terwujud dengan rakyat atau publik menjadi penguasanya. Bukankah filsafat tua demokrasi mengatakan bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan?

SEKIAN.

Kamis, 08 September 2011

tangan-tangan tuhan yang terkontaminasi (semua dengan huruf kecil)


-->
Judulnya nanti saja, lagi tidak terlintas di benak ini, mungkin setelah titik terakhir dari tulisan ini akan muncul ide, apa judul dari tulisan ini.
Inti dari tulisan ini tetap pada rasa muak saya akan apa yang dialami negeri ini. Setelah hampir usai periode kedua dari kepemimpinan beliau atas negeri ini, bukan malah kemajuan yang dialami negeri ini, yang ada malah kehancuran yang menerus. Dari mata yang mampu melihat, kuping yang mampu mendengar dan hati yang hampir kehilangan nurani ini aku ingin membunuh para pemimpin di negeri ini yang ku anggap menjadi racun dan bakteri penyakit atas kerusakan semua ini. Tidak ada lagi yang dapat diselamatkan dari negeri ini bagiku, guru yang dulu mulia tanpa tanda jasanya, hakim yang dulu seperti dewa satu tingkat di bawah tuhan, bahkan pemuka agama yang hanya sejengkal berjarak dengan nabi dan tuhan, sekarang sudah terjangkit penyakit kronis.
Guru sudah tidak mampu memberi praktik bagi muridnya untuk menggugu dan menirukan apa yang positif untuk diberikan kepada mereka. Guru sekarang hanya subjek yang mampu memerankan kehedonisan akan perannya sebagai manusia. Mencari duniawi lebih dominan dilakukan para pahlawan pendidikan ini sekarang. Lebih banyak guru yang hanya mampu memberikan ke-stresan kepada anak-anak muridnya sekarang yang kelak kedepan nya akan menjadi pemimpin di negeri ini. Jika guru tak mampu lagi memberikan proses menggugu dan menirukan hal yang positif untuk pembelajaran, lantas pada siapa murid-murid itu kelak akan mendapatkan proses tersebut.
Kembali ke dalam rumah, keluarga juga mayoritas sekarang hanya memberikan pelajaran akan pentingnya materi diatas segalanya. Keluarga di negeri ini hanya mampu bertopang dagu kepada guru dan institusinya untuk dapat menciptakan anak-anak yang berbakti dan berguna bagi mereka kelak. Tanpa sadar akan keteladanan dalam keluarga lah yang mampu menjadi dasar akan tingkah laku anak-anak di negeri ini. Seperti pepatah, air cucuran takkan jatuh jauh dari atapnya. Apa yang diharapkan seorang ayah koruptor kepada anaknya kelak? Menjadi ustadz? Wowww . . . mungkin ada yang seperti itu, tetapi tentunya dengan tidak meminjam tauladan ayahnya sudah pasti.
Lantas apa kabarnya para pemuka agama di negeri ini? Hmmmm 11-12 menurut istilah di pasaran, sama rusaknya. Tidak pantas sebenarnya saya mengklaim kerusakan para pemuka agama di negeri ini, tetapi at least saya tidak munafik dengan ikut-ikutan memuji-muji kerusakan yang disebabkan oleh para pemuka agama ini. Sudah tidak kasat mata lagi banyak sekali terjadi permasalahan di negeri ini yang disebabkan oleh ulah para pemuka agama yang demi kepentingan pribadi dan kelompoknya rela menjual agama yang notabene adalah milik tuhan. Muslim sebagai mayoritas penghuni negeri ini adalah salah satu contoh yang factual atas tulisan saya ini. Muslim yang dahulu ketika pada era Soeharto sangat diawasi dengan membuat banyak badan-badan yang seolah mengayomi mereka tetapi pada kenyataannya hanyalah alat untuk mengendalikan kemayoritasan umat muslim yang banyak dan beragam. Pendirian MUI sebagai majelis yang menaungi seluruh aliran yang ada pada umat muslim di negeri ini pada era Soeharto hanyalah sebuah wadah untuk menyeragamkan suara dan kesepakatan sekaligus sebagai alat propaganda pemerintah kala itu untuk melancarkan kekuasaannya dari jalur politik, dimana sebagai agama mayoritas umat muslim tentunya sangat strategis sebagai suara-suara politik, jika dapat dikendalikan akan menjadi senjata ampuh, sebaliknya jika tidak dapat dikendalikan maka umat muslim akan menjadi senjata makan tuan bagi pemerintah kala itu.
Coba lihat beberapa kejadian factual akhir-akhir ini, penetapan hari raya idul fitri yang sejatinya harus dilakukan pemerintah melalui badan-badan yang berwenang di dalamnya terkesan malah mengombang-ambingkan umat diantara kebimbangan. Belum lagi banyaknya ormas-ormas yang mengatasnamakan umat muslim yang rutin melakukan sweeping dan tindakan pembersihan yang bertentangan dengan syariat umat muslim. Kerutinan mereka melakukan tindakannya yang selalu dibarengi dengan kekerasan akhirnya hanya mencerminkan bahwa muslim adalah agama yang identik dengan kekerasan untuk menegakkan nya. Dimana posisi pemerintah yang seharusnya mengayomi dan memberikan rasa keamanan dan kenyamanan dengan memberikan rasa keadilan kepada rakyatnya?
Lantas dimana letak peran pemerintah dengan kedua masalah yang sebelumnya saya tulis diatas, dunia pendidikan yang saya representasikan oleh peran guru, dan dunia hukum yang saya wakili oleh hakim sebagai puncak dari keputusan peradilan. Dan dimana posisi pemerintah dalam melihat peran keluarga dan juga dampak dari sistem perekonomian yang kita anut sekarang?
Pemerintah hanya terkesan lepas tangan, pemerintah hanya mementingkan pencitraan jika dihubungkan dengan situasi politik yang ada. Pemerintah kian hari hanya akan menambah pencitraan bahwa mereka tidak mampu mengurusi negeri ini. Bagi-bagi kekuasaan demi jabatan dan uang untuk pertarungan politik kelak masih kental terasa akhir-akhir ini. Coba lihat betapa cepatnya Nazaruddin tertangkap, lalu kemana pemerintah ketika masih banyak tersangka-tersangka koruptor lain yang masih bebas berkeliaran di luar negeri ini. Kemana kasus-kasus hukum yang lama? Semua dengan cepat tergantikan oleh berita-berita yang menghebohkan negeri ini, kian lama kian terlihat bahwa pemerintah malah menciptakan kekacauan yang terstruktur dan sistematis dengan jadwal yang sangat ketat untuk menciptakan anemia di tengah masyarakatnya sendiri akan kasus kasus dan bahkan tugas utama pemerintah di negeri ini yang sekarang memimpin dan akan segera berakhir di 2014 nanti.
Dan di akhir tulisan ini saya akan memberitahukan siapa algojo dari pemerintah saat ini untuk membuat semua program kekacauan nya berhasil. Bukan aparat, bukan agen rahasia bahkan bukan pembunuh bayaran untuk membunuh musuh-musuh politik mereka. MEDIA, media adalah senjata ampuh pemerintah saat ini, dengan terkesan seolah mengontrol pemerintah dengan cara-cara pemberitaan mereka masing-masing. Satu persatu masalah besar di negeri ini dilupakan oleh media dengan cara mencari berita-berita yang baru dan jika dilihat ada yang terkesan dibuat-buat. Tidak ada lagi media seperti dahulu di era soeharto yang berani menentang arus. Media saat ini rutin bergandeng tangan dengan pemerintah dengan cara yang halus dan menurut cara mereka. Pada akhirnya, masyarakat muak dengan negeri ini dan hanya mengurusi kehidupan mereka sendiri tanpa sadar bahwa negeri ini hanya akan hancur dibawah kendali pemerintah yang kerdil dan mengkerdilkan masyarakatnya sendiri.
Guru yang tidak lagi memberikan proses menggugu dan meniru kepada muridnya, hakim yang tidak lagi memberikan rasa adil hingga pemuka agama yang menjadi alat politik dan terpecah belah dari umatnya. Semua tangan tuhan di dunia yang ada di negeri ini telah rusak dan terkontaminasi. Apa solusinya? Apa pemecahan dari semua masalah ini? Jawab sendiri saja ya . . . . . akupun bingung jawabnya huahahahahaha

Selasa, 31 Agustus 2010

Sinabung

Setelah kurang lebih empat abad lamanya gunung ini tertidur akhirnya beberapa hari belakangan ini mulai menampakkan gejala-gejala keaktifannya kembali. Gunung aktif yang dulu masih berstatus biasa-biasa saja sekarang telah menjadi gunung yang harus diawasi dan siaga selalu.


Gunung Sinabung terletak di wilayah kabupaten karo propinsi Sumatera Utara sekitar dua jam dari ibukota propinsi ini (Medan). Ada dua pucuk gunung yang terdapat di daerah ini, yaitu gunung Sibayak dan gunung Sinabung, kedua gunung ini masih dalam keadaan status aktif bahkan jika hanya dilihat oleh kasat mata (masih mengeluarkan gas belerang). Tetapi entah apa yang membuat pemerintah daerah setempat berlaku biasa dan tenang menyikapi hal ini, pemerintah terlihat kurang aktif dengan tidak adanya pos pemantau di daerah gunung aktif tersebut hingga turunnya tim dari pusat, dan bahkan daerah ini tidak memiliki badan penanggulangan bencananya sendiri dan terpaksa mengundang tim penanggulangan bencana provinsi.

Kekonyolan tidak hanya didapati di daerah saja, sehari sebelum gunung Sinabung mengeluarkan asap dan debu sebagai gejala awal dari meletusnya sebuah gunung berapi seorang staff ahli presiden malah mengabarkan tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari gejala-gejala yang ditunjukkan oleh gunung sinabung (asal bapak senang aja), mungkin alam sudah bosan akhirnya esok hari gunung Sinabung mengeluarkan asap dan muntahan debu menjulang tinggi ke langit (yang terakhir setinggi 2000 meter) dan dapat dipastikan mengganggu lalu lintas penerbangan udara di sekitar propinsi ini.

Masalah klasik yang muncul selanjutnya adalah masalah penanganan bencana yang selalu terkesan terlambat, karena saling lepas tanggung jawab pemerintah baik di daerah maupun pusat.

SEKIAN

Jumat, 20 Agustus 2010

65 Tahun Usianya

Selamat ulang tahun kepada negara ini saya ucapkan, 65 tahun kalau kita bandingkan kepada usia manusia saya rasa bukanlah usia untuk anak-anak lagi, tapi kalau kita membandingkan nya kepada kehidupan bernegara memang belum ada apa-apanya.
image from www.beritagar.com
Telah 65 tahun usia proklamasi kemerdekaan negara ini ternyata, tidak terasa. dan 12 tahun pula usia reformasi yang membawa perubahan dan mengiringi pemerintahan yang ada saat ini. Skeptis nya adalah, merdekakah kita? kalau pun merdeka, dari apa? secara skeptis saya tetap memegang teguh pendirian bahwa saya belum merasa merdeka di negara ini, negara tempat saya lahrkan. Ok kalau kita sebut negara ini telah terbebas dari terbelenggu kolonialisme dengan segala kerugiannya, tetapi apa itu kolonialisme? bukankah kita saat ini sedang dalam masa kolonialisasi dalam segala bidang? ingat! baru sekarang kita membicarakan batik sebagai suatu warisan budaya dan mulai dibiasakan kembali untuk dipakai hanya sekedar membuat agar batik tetap eksis di negeri ini, membuatnya eksis setelah beberapa hasil budaya bangsa ini banyak yang telah diklaim oleh tetangga sendiri, yang notabene adalah saudara serumpun juga sebelum adanya periode bernegara seperti saat sekarang ini.

Lain masalah budaya lain pula masalah kaum muda bangsa ini, tahun ini begitu banyak kaum muda di negeri ini yang mengukir prestasi langsung di kancah internasional. Sebut saja tim olimpiade sains kita dengan prestasi imternasional nya, tetapi yang paling mencengangkan prestasi salah satu artis muda di negeri ini yang mengukir prestasi dengan video syur nya, prestasinya adalah; ia mampu memasuki headline beberapa surat kabar internasional, dan kabar beritanya salahsatu artis film syur paman sam merasa tertarik untuk menjadikan nya lawan main pada filmnya yang akan segera dibuat. Belum habis prestasi video syur, muncul lagi satu video, yakni video lypsinc duo maut dgn hits 'keong racun'. Bayangkan! hanya karena pemberitaan yang heboh di media masa dan dunia maya, duo lypsinc ini mendapatkan beasiswa belajar dari pemimpin daerahnya.

Serba miris membayangkan keadaan Indonesia saat ini,

Bayangkan, menjelang hari kemerdekaan negara ini 3 pejabat di dinas kelautan dan perikanan ditangkap patroli perbatasan negara tetangga Malaysia, menurut pihak negara ini mereka tidak melanggar batas sama sekali, yang menjadi pertanyaan jika tidak melanggar batas kenapa patroli perbatasan Malaysia bisa menangkap mereka dan tanpa perlawanan senjata sama sekali? yang lebih mengherankan, negosiasi masalah 3 pejabat tersebut akhirnya terpecahkan dengan menukar 3 pejabat negara ini dengan 7 orang nelayan yang mengambil ikan di daerah laut Indonesia (dengan kata lain pencuri). Pihak pemerintah mengatakan ini bukan barter tahanan, melainkan memperhatikan unsur kemanusiaan para nelayan yang melaksanakan puasa dan juga tidak adanya cukup bukti (kalau tidak ada cukup bukti kenapa bisa dilakukan penangkapan) nah lo . . .

Belum lagi jika kita membicarakan masalah kekerasan teroris di negara ini, menjelang puasa kemarin, salah satu ulama besar (Abu Bakar Ba'asyir) ditangkap untuk kesekian kalinya dengan alasan menjadi ketua dan penyandang dana salah satu kelompok teroris di negara ini. Ok Ba'asyir ditangkap, tapi apa pemerintah melihat disekolah-sekolah dan dikampus-kampus telah banyak pengkaderan untuk melahirkan suatu bentuk aliran keras dalam beragama yang dapat memunculkan teroris-teroris baru di negara ini? terlalu banyak yang menutup mata, bayangkan seorang ulama seperti Ba'asyir mampu membakar semangat jemaatnya dan lalu melakukan aktivitas untuk meneror pemerintahan di negara ini selama beberapa tahun belakangan ini (itu masih hasil analisa sementara). Sejatinya ia telah dihadapkan ke depan hukum dengan alasan subversif di era pemerintahan Soeharto dulu, sebelum dilakukan penahanan akhirnya ia berhasil lolos dan diketahui telah menjadi guru agama di negara tetangga Malaysia, disitulah ia bertemu individu-individu yang kelak menjadi pelaku teror di negeri ini dan kawasan asia tenggara lainnya. Letak kemirisan nya adalah mengapa ba'asyir dengan kasus hukumnya dahulu dapat masuk kembali ke negeri ini tanpa ada perhatian yang serius dari pemerintah, setelah muncul banyak kasus pemboman barulah ia ditangkap.

SEKIAN

Selasa, 17 November 2009

Ode to a Friend

teman!

Sulit untukku membuat keputusan seperti ini, tetapi tidak bagimu mungkin. Apa yang kuanggap pernah kita jalani bersama mungkin akan sulit untuk terhapus dari memori dalam otak dan hatiku. Aku yang hingga saat tulisan ini kutitipkan di dalam dunia maya masih menganggap awal dan akhir hidupku adalah sebuah rantai ketergantungan terhadap mu. Aku sadar kau tidak pernah merasakan apa yang kurasakan hingga saat ini . . .

Tidak membutuhkan waktu lama bagiku untuk sekedar mengingat berapa banyak momentum kehidupan yang telah kita lalui bersama. Momentum tempat berpijak yang kelak membuat kita menjadi seperti saat ini.

Terlalu banyak ingatan yang harus segera kuhapuskan untuk melangkah tanpamu, berat, tetapi harus !!!

Sudah tidak ada lagi mungkin bahkan telah lama kau hapuskan diriku dari daftar kehidupanmu, tetapi kau yang pandai menyembunyikan perasaan hingga tak seorang pun bahkan aku mengetahuinya.

Ya . . . aku paham teman !!! ini pilihanku memang, ini semua kulakukan karena aku tahu kau mampu menguasai dunia ini sendiri, dan biarlah aku yang akan memainkan peran si pecundang itu.

Hanya ini yang mampu kulakukan, memutuskan silaturahmi pertemanan, aku tidak mampu memutuskan tali silaturahim persaudaraan yang telah mengalir di dalam darah tubuh ini jauh sebelum kita sadar bahwa kita adalah bersaudara . . .

Sabtu, 14 November 2009

CPNS 2009


Jum'at, 13 November 2009.

Hari terakhir pendaftaran berkas untuk syarat-syarat ujian CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) daerah kota Medan dan Sumatera Utara. Tidak terlihat ramai seperti hari-hari pendaftaran sebelumnya, saya berminat untuk mendaftar di hari terakhir ini.

Sampai di tempat lokasi pendaftaran yaitu kantor Pos Pusat Sumatera Utara saya langsung melengkapi beberapa persyaratan berkas yang belum sempat saya lengkapi. Sesudah terlengkapi seluruh persyaratan saya sempat bingung karena ketika memasuki kantor pos tersebut dari depan saya harus mengikuti rambu-rambu yang mengarahkan saya ke tempat lokasi pendaftaran, tertawa juga sedikit ketika menyadari ternyata tempat pendaftaran berada di belakang kantor tersebut, tempat dimana saya tidak jauh memarkirkan kenderaan saya.

Memasuki ruangan pendaftaran saya lumayan bernafas lega karena antrian tidak begitu panjang seperti di hari-hari sebelumnya. Di saat mengantri saya agak terkesima ketika melihat para pendaftar yang sudah mendapatkan giliran mengeluarkan sejumlah uang yang variatif nilainya sepanjang pantauan saya nilai paling kecil adalah sepuluh ribu rupiah dan yang terbesar adalah dua puluh ribu rupiah. Tiba saat antrian saya tiba, saya pun dikenai bayaran sebesar sepuluh ribu rupiah, kemudian saya bertanya kepada pendaftar lain yang dikenakan bayaran berbeda dari saya dan akhirnya saya menyimpulkan untuk kota Medan dikenakan biaya sepuluh ribu rupiah, untuk provinsi Sumatera Utara dikenakan biaya lima belas ribu rupiah dan untuk luar kota Medan dikenakan biaya dua puluh ribu rupiah. Dan setelah saya mengamati resi atau bukti pembayaran yang saya terima ternyata berkas yang saya masukkan tersebut akan dikirim dalam kategori paket kilat untuk kiriman dalam sehari dengan rincian dalam kota dikenakan charge sebesar satu dollar Amerika yang jika dirupiahkan hanya sebesar sembilan ribu empat ratusan saja, kemana sisanya? Pertanyaan pun muncul dalam benak yang nakal dan usil ini.



Menurut beberapa media lokal yang beredar, pendaftar ujian calon pegawai negeri sipil (CPNS) di Sumatera Utara sudah mencapai hampir angka lima puluh ribu peserta. Dari selisih antara biaya yang dikutip oleh pihak kantor pos yakni lima ratus rupiah jika dikalikan dengan jumlah pendaftar saat ini maka hitungan kasarnya akan menjadi dua puluh lima juta rupiah. Hitungan tersebut sangat kecil bagi sebuah instansi tetapi masalahnya ini menyangkut uang rakyat, jika selisih uang tersebut masuk ke dalam area kantor pos sebagai kompensasi atas kerjasama pihak pemerintah dalam hal ini pemerintahan provinsi Sumatera Utara, buat apa ada anggaran untuk penerimaan calon pegawai negeri sipil di negara ini. Jadi situasi yang ada saat ini kalau saya harus menganalogikan nya adalah rakyat dalam hal para pelamar calon pegawai negeri sipil ibarat sebuah sapi yang ketika susunya usai diperas maka ia pun harus menghadapi tukang jagal untuk mengambil dagingnya.

Kejam, itu menurut saya. Ketika rakyat harus melihat jumlah gaji anggota dewan, menteri hingga presiden yang sangat dapat membuat jantung ini dapat berhenti, rakyat juga harus membunuh rasa yang ada pada dirinya ketika menyadari ia harus menjadi korban dari si tukang jagal untuk menjual dagingnya.

SEKIAN

Minggu, 30 Agustus 2009

Klaim Budaya

Lagi-lagi heboh bermasalah dengan tetangga, seperti tinggal di perumahan nasional (PERUMNAS) saja. Malaysia membuat iklan untuk ditayangkan di stasiun televisi swasta internasional (DISCOVERY CHANNEL) dengan tujuan mempromosikan program pariwisata negara tersebut. Tetapi ternyata dalam iklan yang dibuat oleh pihak swasta Malaysia tersebut terdapat plot-plot yang menggambarkan tari-tarian yang sejatinya selalu digunakan masyarakat Hindu di Provinsi Bali Indonesia untuk menyambut dewa dalam upacara keagamaannya, yakni tari 'PENDET'. Tari ini pada akhirnya tidak hanya dijadikan tarian sakral pada upacara keagamaan agama Hindu Bali tetapi juga telah lama menjadi ikon pariwisata Bali khususnya dan Indonesia umumnya sejak negara Indonesia berdiri. Dan 3 tahun sebelum negara Indonesia berdiri beberapa antropolog asing yang melakukan penelitian antropologi dengan media visualisasi juga telah merekam seluruh kebudayaan masyarakat Bali termasuk tari 'PENDET'.

Malaysia berkata bahwa dengan tayangnya iklan pariwisata Malaysia tersebut dengan tari 'PENDET' di dalamnya bukan berarti Malaysia mengklaim bahwa tarian tersebut milik mereka. Tetapi mereka juga tidak menjelaskan apa latar belakang hingga dimasukkannya tarian tersebut dalam iklan pariwisata Malaysia tersebut. Mereka juga bukan negara miskin yang tidak memiliki kekayaan budaya. Banyak budaya mereka yang bisa mereka promosikan ke dunia internasional, hanya saja akan butuh waktu lama untuk memperkenalkannya. Dengan mengambil salah satu kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia seperti tari 'PENDET' yang juga telah mendunia sejak lama ia tidak perlu lagi membutuhkan waktu yang lama untuk mempromosikannya. Toh penari-penari yang muncul dalam iklan tersebut juga belajar di Bali Indonesia dan pengambilan gambarnya juga ternyata di daerah Bali Indonesia.

Tidak hanya sekali ternyata tetangga ini mengambil apa yang bukan menjadi hak miliknya dari mulai bangsa Indonesia berdiri hingga akhirnya diikuti oleh Malaysia dengan hak untuk merdeka dari penjajahnya yakni Inggris ia sudah mulai mengambil secara perlahan-lahan (cantik main orang Medan bilang . . .). Lagu kebangsaannya saja ambil contoh, notasinya, tempo lagu sangat mirip sekali dengan lagu yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Bahkan artis sekaligus aktor yang sangat dielu-elukan bangsa Malaysia juga berasal dari ujung Sumatera yaitu P Ramlee si Madu Tiga. Tahun 2000 Malaysia juga mengklaim bahkan mengadakan pameran hingga ke dunia internasional untuk memeperkenalkan Batik yang dulu pernah dipakai pada seragam resmi Pertemuan G-8 di Indonesia dimana pada saat itu Indonesia masih dipimpin oleh Soeharto.

Di tahun ini juga berkali-kali Malaysia melakukan pelecehan terhadap bangsa Indonesia, mulai dari mengklaim Reog Ponorogo (khas Jawa Timur) hingga lagu 'rasa sayange' dari timur Indonesia. Dan berkali-kali juga patroli keamanan laut Indonesia melihat kapal-kapal militer angkatan laut Malaysia melakukan pelanggaran tapal batas kedaulatan negara Indonesia. Di darat seperti di perbatasan Kalimantan dan Sarawak, seringkali didapati bahwa tapal-tapal batas negara Indonesia bergeser di pedalaman hutan antara Kalimantan dan Malaysia. Entah apalagi yang akan mereka lakukan pada bangsa kita ini dan entah apalagi yang akan mereka klaim dari bangsa ini, mungkin saja 'koteka' dan isi-isinya dari Irian Jaya akan diklaim oleh mereka nantinya. Kita tunggu saja.

Satu hal yang perlu ditambahkan juga disini bahwa pemimpin pertama republik ini pernah berkata 'Malaysia seharusnya menjadi bagian dari Indonesia' jadi tidak perlu ia mengklaim hasil budaya dari negeri kita lagi. Tapi nasi sudah menjadi bubur dan intelektual-intelektual negeri ini juga sudah banyak yang menjual budayanya kepada Malaysia dan tetangga-tetangga kita yang lain. Jadi menurut saya yang diperlukan saat ini adalah seorang pemimpin yang mampu membawa bangsa ini kepada bangsa yang memiliki harkat dan martabat di mata dunia dan jalan satu-satunya adalah dengan mengambil tindakan yang cepat dan tegas untuk kasus-kasus seperti ini.

Sekali lagi ini hanya tulisan untuk membangun, bukan untuk menghancurkan.

SEKIAN