Selasa, 31 Agustus 2010

Sinabung

Setelah kurang lebih empat abad lamanya gunung ini tertidur akhirnya beberapa hari belakangan ini mulai menampakkan gejala-gejala keaktifannya kembali. Gunung aktif yang dulu masih berstatus biasa-biasa saja sekarang telah menjadi gunung yang harus diawasi dan siaga selalu.


Gunung Sinabung terletak di wilayah kabupaten karo propinsi Sumatera Utara sekitar dua jam dari ibukota propinsi ini (Medan). Ada dua pucuk gunung yang terdapat di daerah ini, yaitu gunung Sibayak dan gunung Sinabung, kedua gunung ini masih dalam keadaan status aktif bahkan jika hanya dilihat oleh kasat mata (masih mengeluarkan gas belerang). Tetapi entah apa yang membuat pemerintah daerah setempat berlaku biasa dan tenang menyikapi hal ini, pemerintah terlihat kurang aktif dengan tidak adanya pos pemantau di daerah gunung aktif tersebut hingga turunnya tim dari pusat, dan bahkan daerah ini tidak memiliki badan penanggulangan bencananya sendiri dan terpaksa mengundang tim penanggulangan bencana provinsi.

Kekonyolan tidak hanya didapati di daerah saja, sehari sebelum gunung Sinabung mengeluarkan asap dan debu sebagai gejala awal dari meletusnya sebuah gunung berapi seorang staff ahli presiden malah mengabarkan tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari gejala-gejala yang ditunjukkan oleh gunung sinabung (asal bapak senang aja), mungkin alam sudah bosan akhirnya esok hari gunung Sinabung mengeluarkan asap dan muntahan debu menjulang tinggi ke langit (yang terakhir setinggi 2000 meter) dan dapat dipastikan mengganggu lalu lintas penerbangan udara di sekitar propinsi ini.

Masalah klasik yang muncul selanjutnya adalah masalah penanganan bencana yang selalu terkesan terlambat, karena saling lepas tanggung jawab pemerintah baik di daerah maupun pusat.

SEKIAN

Jumat, 20 Agustus 2010

65 Tahun Usianya

Selamat ulang tahun kepada negara ini saya ucapkan, 65 tahun kalau kita bandingkan kepada usia manusia saya rasa bukanlah usia untuk anak-anak lagi, tapi kalau kita membandingkan nya kepada kehidupan bernegara memang belum ada apa-apanya.
image from www.beritagar.com
Telah 65 tahun usia proklamasi kemerdekaan negara ini ternyata, tidak terasa. dan 12 tahun pula usia reformasi yang membawa perubahan dan mengiringi pemerintahan yang ada saat ini. Skeptis nya adalah, merdekakah kita? kalau pun merdeka, dari apa? secara skeptis saya tetap memegang teguh pendirian bahwa saya belum merasa merdeka di negara ini, negara tempat saya lahrkan. Ok kalau kita sebut negara ini telah terbebas dari terbelenggu kolonialisme dengan segala kerugiannya, tetapi apa itu kolonialisme? bukankah kita saat ini sedang dalam masa kolonialisasi dalam segala bidang? ingat! baru sekarang kita membicarakan batik sebagai suatu warisan budaya dan mulai dibiasakan kembali untuk dipakai hanya sekedar membuat agar batik tetap eksis di negeri ini, membuatnya eksis setelah beberapa hasil budaya bangsa ini banyak yang telah diklaim oleh tetangga sendiri, yang notabene adalah saudara serumpun juga sebelum adanya periode bernegara seperti saat sekarang ini.

Lain masalah budaya lain pula masalah kaum muda bangsa ini, tahun ini begitu banyak kaum muda di negeri ini yang mengukir prestasi langsung di kancah internasional. Sebut saja tim olimpiade sains kita dengan prestasi imternasional nya, tetapi yang paling mencengangkan prestasi salah satu artis muda di negeri ini yang mengukir prestasi dengan video syur nya, prestasinya adalah; ia mampu memasuki headline beberapa surat kabar internasional, dan kabar beritanya salahsatu artis film syur paman sam merasa tertarik untuk menjadikan nya lawan main pada filmnya yang akan segera dibuat. Belum habis prestasi video syur, muncul lagi satu video, yakni video lypsinc duo maut dgn hits 'keong racun'. Bayangkan! hanya karena pemberitaan yang heboh di media masa dan dunia maya, duo lypsinc ini mendapatkan beasiswa belajar dari pemimpin daerahnya.

Serba miris membayangkan keadaan Indonesia saat ini,

Bayangkan, menjelang hari kemerdekaan negara ini 3 pejabat di dinas kelautan dan perikanan ditangkap patroli perbatasan negara tetangga Malaysia, menurut pihak negara ini mereka tidak melanggar batas sama sekali, yang menjadi pertanyaan jika tidak melanggar batas kenapa patroli perbatasan Malaysia bisa menangkap mereka dan tanpa perlawanan senjata sama sekali? yang lebih mengherankan, negosiasi masalah 3 pejabat tersebut akhirnya terpecahkan dengan menukar 3 pejabat negara ini dengan 7 orang nelayan yang mengambil ikan di daerah laut Indonesia (dengan kata lain pencuri). Pihak pemerintah mengatakan ini bukan barter tahanan, melainkan memperhatikan unsur kemanusiaan para nelayan yang melaksanakan puasa dan juga tidak adanya cukup bukti (kalau tidak ada cukup bukti kenapa bisa dilakukan penangkapan) nah lo . . .

Belum lagi jika kita membicarakan masalah kekerasan teroris di negara ini, menjelang puasa kemarin, salah satu ulama besar (Abu Bakar Ba'asyir) ditangkap untuk kesekian kalinya dengan alasan menjadi ketua dan penyandang dana salah satu kelompok teroris di negara ini. Ok Ba'asyir ditangkap, tapi apa pemerintah melihat disekolah-sekolah dan dikampus-kampus telah banyak pengkaderan untuk melahirkan suatu bentuk aliran keras dalam beragama yang dapat memunculkan teroris-teroris baru di negara ini? terlalu banyak yang menutup mata, bayangkan seorang ulama seperti Ba'asyir mampu membakar semangat jemaatnya dan lalu melakukan aktivitas untuk meneror pemerintahan di negara ini selama beberapa tahun belakangan ini (itu masih hasil analisa sementara). Sejatinya ia telah dihadapkan ke depan hukum dengan alasan subversif di era pemerintahan Soeharto dulu, sebelum dilakukan penahanan akhirnya ia berhasil lolos dan diketahui telah menjadi guru agama di negara tetangga Malaysia, disitulah ia bertemu individu-individu yang kelak menjadi pelaku teror di negeri ini dan kawasan asia tenggara lainnya. Letak kemirisan nya adalah mengapa ba'asyir dengan kasus hukumnya dahulu dapat masuk kembali ke negeri ini tanpa ada perhatian yang serius dari pemerintah, setelah muncul banyak kasus pemboman barulah ia ditangkap.

SEKIAN

Selasa, 17 November 2009

Ode to a Friend

teman!

Sulit untukku membuat keputusan seperti ini, tetapi tidak bagimu mungkin. Apa yang kuanggap pernah kita jalani bersama mungkin akan sulit untuk terhapus dari memori dalam otak dan hatiku. Aku yang hingga saat tulisan ini kutitipkan di dalam dunia maya masih menganggap awal dan akhir hidupku adalah sebuah rantai ketergantungan terhadap mu. Aku sadar kau tidak pernah merasakan apa yang kurasakan hingga saat ini . . .

Tidak membutuhkan waktu lama bagiku untuk sekedar mengingat berapa banyak momentum kehidupan yang telah kita lalui bersama. Momentum tempat berpijak yang kelak membuat kita menjadi seperti saat ini.

Terlalu banyak ingatan yang harus segera kuhapuskan untuk melangkah tanpamu, berat, tetapi harus !!!

Sudah tidak ada lagi mungkin bahkan telah lama kau hapuskan diriku dari daftar kehidupanmu, tetapi kau yang pandai menyembunyikan perasaan hingga tak seorang pun bahkan aku mengetahuinya.

Ya . . . aku paham teman !!! ini pilihanku memang, ini semua kulakukan karena aku tahu kau mampu menguasai dunia ini sendiri, dan biarlah aku yang akan memainkan peran si pecundang itu.

Hanya ini yang mampu kulakukan, memutuskan silaturahmi pertemanan, aku tidak mampu memutuskan tali silaturahim persaudaraan yang telah mengalir di dalam darah tubuh ini jauh sebelum kita sadar bahwa kita adalah bersaudara . . .

Sabtu, 14 November 2009

CPNS 2009


Jum'at, 13 November 2009.

Hari terakhir pendaftaran berkas untuk syarat-syarat ujian CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) daerah kota Medan dan Sumatera Utara. Tidak terlihat ramai seperti hari-hari pendaftaran sebelumnya, saya berminat untuk mendaftar di hari terakhir ini.

Sampai di tempat lokasi pendaftaran yaitu kantor Pos Pusat Sumatera Utara saya langsung melengkapi beberapa persyaratan berkas yang belum sempat saya lengkapi. Sesudah terlengkapi seluruh persyaratan saya sempat bingung karena ketika memasuki kantor pos tersebut dari depan saya harus mengikuti rambu-rambu yang mengarahkan saya ke tempat lokasi pendaftaran, tertawa juga sedikit ketika menyadari ternyata tempat pendaftaran berada di belakang kantor tersebut, tempat dimana saya tidak jauh memarkirkan kenderaan saya.

Memasuki ruangan pendaftaran saya lumayan bernafas lega karena antrian tidak begitu panjang seperti di hari-hari sebelumnya. Di saat mengantri saya agak terkesima ketika melihat para pendaftar yang sudah mendapatkan giliran mengeluarkan sejumlah uang yang variatif nilainya sepanjang pantauan saya nilai paling kecil adalah sepuluh ribu rupiah dan yang terbesar adalah dua puluh ribu rupiah. Tiba saat antrian saya tiba, saya pun dikenai bayaran sebesar sepuluh ribu rupiah, kemudian saya bertanya kepada pendaftar lain yang dikenakan bayaran berbeda dari saya dan akhirnya saya menyimpulkan untuk kota Medan dikenakan biaya sepuluh ribu rupiah, untuk provinsi Sumatera Utara dikenakan biaya lima belas ribu rupiah dan untuk luar kota Medan dikenakan biaya dua puluh ribu rupiah. Dan setelah saya mengamati resi atau bukti pembayaran yang saya terima ternyata berkas yang saya masukkan tersebut akan dikirim dalam kategori paket kilat untuk kiriman dalam sehari dengan rincian dalam kota dikenakan charge sebesar satu dollar Amerika yang jika dirupiahkan hanya sebesar sembilan ribu empat ratusan saja, kemana sisanya? Pertanyaan pun muncul dalam benak yang nakal dan usil ini.



Menurut beberapa media lokal yang beredar, pendaftar ujian calon pegawai negeri sipil (CPNS) di Sumatera Utara sudah mencapai hampir angka lima puluh ribu peserta. Dari selisih antara biaya yang dikutip oleh pihak kantor pos yakni lima ratus rupiah jika dikalikan dengan jumlah pendaftar saat ini maka hitungan kasarnya akan menjadi dua puluh lima juta rupiah. Hitungan tersebut sangat kecil bagi sebuah instansi tetapi masalahnya ini menyangkut uang rakyat, jika selisih uang tersebut masuk ke dalam area kantor pos sebagai kompensasi atas kerjasama pihak pemerintah dalam hal ini pemerintahan provinsi Sumatera Utara, buat apa ada anggaran untuk penerimaan calon pegawai negeri sipil di negara ini. Jadi situasi yang ada saat ini kalau saya harus menganalogikan nya adalah rakyat dalam hal para pelamar calon pegawai negeri sipil ibarat sebuah sapi yang ketika susunya usai diperas maka ia pun harus menghadapi tukang jagal untuk mengambil dagingnya.

Kejam, itu menurut saya. Ketika rakyat harus melihat jumlah gaji anggota dewan, menteri hingga presiden yang sangat dapat membuat jantung ini dapat berhenti, rakyat juga harus membunuh rasa yang ada pada dirinya ketika menyadari ia harus menjadi korban dari si tukang jagal untuk menjual dagingnya.

SEKIAN

Minggu, 30 Agustus 2009

Klaim Budaya

Lagi-lagi heboh bermasalah dengan tetangga, seperti tinggal di perumahan nasional (PERUMNAS) saja. Malaysia membuat iklan untuk ditayangkan di stasiun televisi swasta internasional (DISCOVERY CHANNEL) dengan tujuan mempromosikan program pariwisata negara tersebut. Tetapi ternyata dalam iklan yang dibuat oleh pihak swasta Malaysia tersebut terdapat plot-plot yang menggambarkan tari-tarian yang sejatinya selalu digunakan masyarakat Hindu di Provinsi Bali Indonesia untuk menyambut dewa dalam upacara keagamaannya, yakni tari 'PENDET'. Tari ini pada akhirnya tidak hanya dijadikan tarian sakral pada upacara keagamaan agama Hindu Bali tetapi juga telah lama menjadi ikon pariwisata Bali khususnya dan Indonesia umumnya sejak negara Indonesia berdiri. Dan 3 tahun sebelum negara Indonesia berdiri beberapa antropolog asing yang melakukan penelitian antropologi dengan media visualisasi juga telah merekam seluruh kebudayaan masyarakat Bali termasuk tari 'PENDET'.

Malaysia berkata bahwa dengan tayangnya iklan pariwisata Malaysia tersebut dengan tari 'PENDET' di dalamnya bukan berarti Malaysia mengklaim bahwa tarian tersebut milik mereka. Tetapi mereka juga tidak menjelaskan apa latar belakang hingga dimasukkannya tarian tersebut dalam iklan pariwisata Malaysia tersebut. Mereka juga bukan negara miskin yang tidak memiliki kekayaan budaya. Banyak budaya mereka yang bisa mereka promosikan ke dunia internasional, hanya saja akan butuh waktu lama untuk memperkenalkannya. Dengan mengambil salah satu kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia seperti tari 'PENDET' yang juga telah mendunia sejak lama ia tidak perlu lagi membutuhkan waktu yang lama untuk mempromosikannya. Toh penari-penari yang muncul dalam iklan tersebut juga belajar di Bali Indonesia dan pengambilan gambarnya juga ternyata di daerah Bali Indonesia.

Tidak hanya sekali ternyata tetangga ini mengambil apa yang bukan menjadi hak miliknya dari mulai bangsa Indonesia berdiri hingga akhirnya diikuti oleh Malaysia dengan hak untuk merdeka dari penjajahnya yakni Inggris ia sudah mulai mengambil secara perlahan-lahan (cantik main orang Medan bilang . . .). Lagu kebangsaannya saja ambil contoh, notasinya, tempo lagu sangat mirip sekali dengan lagu yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Bahkan artis sekaligus aktor yang sangat dielu-elukan bangsa Malaysia juga berasal dari ujung Sumatera yaitu P Ramlee si Madu Tiga. Tahun 2000 Malaysia juga mengklaim bahkan mengadakan pameran hingga ke dunia internasional untuk memeperkenalkan Batik yang dulu pernah dipakai pada seragam resmi Pertemuan G-8 di Indonesia dimana pada saat itu Indonesia masih dipimpin oleh Soeharto.

Di tahun ini juga berkali-kali Malaysia melakukan pelecehan terhadap bangsa Indonesia, mulai dari mengklaim Reog Ponorogo (khas Jawa Timur) hingga lagu 'rasa sayange' dari timur Indonesia. Dan berkali-kali juga patroli keamanan laut Indonesia melihat kapal-kapal militer angkatan laut Malaysia melakukan pelanggaran tapal batas kedaulatan negara Indonesia. Di darat seperti di perbatasan Kalimantan dan Sarawak, seringkali didapati bahwa tapal-tapal batas negara Indonesia bergeser di pedalaman hutan antara Kalimantan dan Malaysia. Entah apalagi yang akan mereka lakukan pada bangsa kita ini dan entah apalagi yang akan mereka klaim dari bangsa ini, mungkin saja 'koteka' dan isi-isinya dari Irian Jaya akan diklaim oleh mereka nantinya. Kita tunggu saja.

Satu hal yang perlu ditambahkan juga disini bahwa pemimpin pertama republik ini pernah berkata 'Malaysia seharusnya menjadi bagian dari Indonesia' jadi tidak perlu ia mengklaim hasil budaya dari negeri kita lagi. Tapi nasi sudah menjadi bubur dan intelektual-intelektual negeri ini juga sudah banyak yang menjual budayanya kepada Malaysia dan tetangga-tetangga kita yang lain. Jadi menurut saya yang diperlukan saat ini adalah seorang pemimpin yang mampu membawa bangsa ini kepada bangsa yang memiliki harkat dan martabat di mata dunia dan jalan satu-satunya adalah dengan mengambil tindakan yang cepat dan tegas untuk kasus-kasus seperti ini.

Sekali lagi ini hanya tulisan untuk membangun, bukan untuk menghancurkan.

SEKIAN

Muslim

Umat muslim sedunia kembali memasuki bulan suci yang penuh rahmad, bulan yang terbaik diantara seribu bulan, bulan dimana seluruh dosa akan mendapatkan ampunannya.
image from https://www.aerobrain.blogspot.com
Bulan ramadhan yang datang setahun sekali menurut perhitungan umat muslim sedunia. Dan seperti biasanya yang dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya, umat muslim seluruh dunia juga melakukan berbagai seremoni untuk menyambut bulan ini, seremoni yang pada akhirnya hanya akan mengakibatkan umat muslim tergelincir pada bid’ah yakni sesuatu yang terkadang baik untuk dilakukan tetapi tidak pernah diperbuat ataupun dianjurkan oleh nabi Muhammad rasulullah saw. Nabi Muhammad rasulullah saw dalam riwayatnya hanya selalu menekankan kepada umatnya untuk tidak lupa pada ibadah yang wajib yakni shalat fardhu ditambah sunah-sunahnya dan lalu diikuti oleh rukun-rukun islam yang lainnya seperti di awal rukun yaitu membaca dan dawam mengenai dua kalimat syahadat (asyhaduanla ila haillallah wa asyhaduanna muhammadan rasulullah/tiada tuhan selain Allah yang berhak untuk disembah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah sebenar-benarnya rasul utusan Allah), lalu umat muslim dianjurkan untuk berpuasa bila mampu tetapi jika tidak dapat melakukannya umat muslim dapat melakukan ibadah-ibadah lainnya sesuai anjuran kitab suci al-qur’an dan hadits sekaligus teladan-teladan tingkah laku nabi lainnya. Selanjutnya umat muslim juga dianjurkan untuk membayar zakat itupun jika mampu, lalu yang terakhir ada ibadah haji menuju tanah suci Mekkah tempat dimana nabi Muhammad dilahirkan dan agama islam diturunkan oleh allah swt itupun sekali lagi jika mampu.

Dari lima rukun yang wajib untuk ditunaikan umat Islam ada satu rukun ibadah yang selalu mendapat perhatian dari Allah dan rasulullah yakni ibadah shalat khususnya ibadah shalat lima waktu. Tetapi ini bukan untuk menghilangkan nilai-nilai dari ibadah puasa, ibadah puasa itu sangat penting sehingga ia diletakkan pada posisi ketiga dari rukun islam yang ada. Tetapi dari seluruh rukun ibadah yang ada shalat adalah ibadah yang tidak memiliki nilai nilai tawar sama sekali apalagi untuk menggantikan nya. Shalat adalah satu-satunya ibadah yang tidak bisa dibayar dalam islam dalam artian untuk menggantikannya. Jika orang tua yang tidak sanggup sama sekali untuk berpuasa entah itu ia terkena penyakit ataupun ia telah terlalu tua untuk menjalankan ibadah puasa yang sempurna ia dapat menggantinya dengan membayar fidyah atau dendanya kepada fakir miskin ataupun orang lain yang memerlukan pertolongan. Demikian juga dengan zakat dan naik haji yang hanya dapat dilakukan jika benar-benar telah mampu.

Shalat fardhu yang lima waktu tersebut jika tertinggal tidak dapat diganti ataupun tergantikan, tetapi jika ia tidak dapat dilakukan dalam posisi manusia yang sehat dan sempurna ia dapat dilakukan dengan posisi manusia tersebut semampunya saja. Disitulah letak tidak ingin tahu umat muslim saat ini atau mungkin mereka memang tidak ingin memahami rukun-rukun dan tata cara dalam agama mereka sama sekali. Setiap ibadah yang dilakukan umat muslim memliki esensi atas hal untuk apa ibadah tersebut dilakukan. Jadi Islam menerapkan ibadah kepada umatnya bukan melalui doktrinisasi yakni melakukan ibadah tanpa mengetahui alasan rasionalnya sama sekali.

Puasa adalah ibadah untuk menahan nafsu manusiawi secara keseluruhan bukan hanya menahan haus dan lapar yang dirasakan oleh manusia. Puasa juga bukan hanya ibadah yang dapat dilakukan di bulan ramadhan saja, puasa juga dapat dilakukan di bulan-bulan lainnya. Puasa menjadi wajib hukumnya di bulan ramadhan hanya kepada yang mampu melaksanakannya jika ia sehat jasmani dan rohani. Tetapi apa yang kita dapati saat ini adalah umat yang hanya mencintai seremonial belaka.

Mayoritas umat islam saat ini lebih mencintai seremoni dari suatu ibadah, dan ramadhan adalah bulan yang penuh akan gambaran tersebut. Lihat berapa banyak umat muslim yang sangat menghafal raka’at-raka’at dan rukun dalam melaksanakan shalat sunat tarawih, shalat sunah setelah shalat fardhu isya yang bahkan dahulu tidak pernah dianjurkan bahkan dicontohkan oleh rasulullah sendiri. Dan efek dari sifat yang seremonial tadi adalah; banyak umat muslim yang ada saat ini hanya melakukan ibadah shalat sunah tarawih di awal-awal ramadhan saja. Lihat saja mesjid-mesjid di awal ramadhan yang sangat padat dari awal sahur hingga sahur di hari berikutnya, kepadatan ini akan semakin berkurang seiring berjalannya bulan ramadhan tadi.

Coba juga lihat orang-orang kikir yang tiba-tiba berubah menjadi seorang dermawan terhadap kaum fakir miskin dengan selalu memberikan sumbangan di bulan ramadhan bahkan membayarkan zakatnya dengan berlebih-lebihan, sebuah sifat yang sangat tidak pernah diinginkan oleh rasulullah sehingga beliau tidak pernah memberikan contoh kepada umatnya.

Sifat-sifat diatas sebenarnya sangat baik dan terpuji di mata allah, tetapi sayangnya sifat tersebut hanya terjadi di bulan ramadhan. Kalaupun berkesinambungan itu hanya sedikit saja, dan dari yang sedikit itulah dapat ditemukan umat-umat yang mendapatkan hidayah ataupun pencerahan dari tiap-tiap ibadah yang dilakukannya. Puasa bukan hanya bulan untuk menahan lapar, haus dan nafsu saja. Puasa adalah dimana manusia benar-benar menjadi makhluk yang tertinggi derajatnya diantara makhluk-makhluk lain dengan cara mendaur ulang jasmaninya dari makanan, minuman dan nafsu-nafsu lainnya yang didapatinya selama bulan-bulan di luar bulan ramadhan. Jadi ramadhan bukan hanya sebatas bulan tanpa makan dan minum melainkan bulan dimana manusia diproses untuk menjadi makhluk tertinggi dan sekaligus yang terkuat di muka bumi ini. Di bulan ramadhan manusia diajarkan bahwa dengan berpuasa manusia tidak akan menjadi lemah melainkan akan lebih memberikan kekuatan kepada manusia.

Dan tanpa memperkecil arti dan makna dari ibadah-ibadah yang ada dalam islam seperti puasa, membayar zakat dan ibadah haji, bahwa inti dari segala ibadah dalam islam adalah shalat. Nabi Muhammad seringkali berpesan bahwa shalat itu adalah tiang agama, dianggap tiang agama karena dari shalatlah umat muslim dapat menjadikan islam ini menjadi agama yang kuat tidak hanya secara fisik tetapi secara rohani juga. Dalam shalat terdapat ketaatan terhadap sang pencipta yang sangat besar jika dilakukan dengan khusyuk dan sempurna. Dan dalam shalat juga terdapat kedisplinan yang sangat besar terhadap diri sendiri. Karena terlalu pentingnya ibadah shalat bahkan dalam keadaan tidak sempurna sekalipun seorang manusia tetap harus melakukan ibadah shalat khususnya shalat fardhu lima waktu pada waktu-waktunya masing-masing..

Sekali lagi tanpa memperkecil arti ibadah puasa pada bulan ramadhan ini, marilah kita kembali memberikan sedikit waktu untuk melihat cerminan umat muslim saat ini dan mulai membenahinya berawal dari bulan ramadhan ini. Dengan cara meningkatkan ibadah shalat fardhu kita ditengah-tengah ibadah puasa tentulah itu sangat memberikan arti yang lebih pada diri kita dan umat muslim yang ada. Apalagi jika semua keberhasilan kita dalam menjalankan seluruh ibadah yang diperintahkan oleh allah swt di bulan ini dapat kita lanjutkan pada bulan-bulan berikutnya sampai tahun-tahun berikutnya hingga ajal menjumpai kita. Tentulah kita akan menjadi umat yang sangat ditakuti bukan karena rajin membunuh sesama tetapi karena selalu memberikan kedamaian ditengah-tengah kehidupan di muka bumi ini. 

Dan sekali lagi ini semua harus dilakukan dengan melalui diri sendiri dahulu.

SEKIAN

Kamis, 02 Juli 2009

Serapahku



Kita akhirnya tiba pada suatu masa, dimana masyarakat kita sudah tidak mencintai atau bahkan cenderung untuk tidak memakai identitas kebudayaan nya lagi dalam kehidupannya sehari-hari.


Kita hanya memakai identitas budaya kita sebatas seremonial belaka.